Jumat, 12 Maret 2010

INSPIRASI SUMPAH PEMUDA DARI PUISI-PUISI MUHAMMAD YAMIN


INSPIRASI SUMPAH PEMUDA DARI PUISI-PUISI MUHAMMAD YAMIN
Oleh : I Wayan Widyartha Suryawan
Siswa Kelas XI-IPA2 SMAN 1 Kuta Selatan, Badung

Pemuda sering disebut-sebut sebagai tulang punggung bangsa. Di tangan pemuda pula nasib bangsa dipertaruhkan. Namun akan percuma kalau harapan yang dipertaruhkan itu hanya sebatas slogan. Untuk itu, pemuda perlu menunjukkan jati dirinya dan mewujudkan harapan menjadi tulang punggung sebuah bangsa.
Banyak hal yang dapat dilakukan pemuda pada era reformasi (konon) ini. Pendidikan salah satunya. Dengan pendidikan, kaum muda dapat menghajar musuh yang bernama kebodohan. Tanpa kebodohan, generasi muda tidak akan mudah ditipu orang. Tanpa kebodohan pula jati diri seorang pemuda tidak akan goyah diterpa serangan-serangan duniawi. “..hajar kebodohan/ tau diri, kenal diri, dan bisa jaga diri/ pengecut bukanlah jati diri yang sejati/ tunjukkan pada dunia, kita adalah manusia yang harus dipuji..” begitulah Superman is Dead, sebuah band kebanggaan Bali yang telah berkibar di industri musik nasional dalam lagunya “We Are The Outsiders”.

Pemikiran dan gagasan-gagasan pemuda yang sifatnya membangun tidak sulit untuk ditemukan. Terlebih bila tujuannya untuk sebuah persatuan dan kesatuan bangsa. Namun, terkadang pemikiran ideal pemuda tempo dulu sering dimaknai melenceng generasi saat ini. Banyak tokoh pemuda yang menyerukan persatuan melalui karya-karyanya, namun realitas di lapangan kaum pemuda justru meninggalkan pesan-pesan yang tersirat dalam karya-karya itu. Sehingga tak jarang bila di media massa kasus yang melibatkan remaja (pemuda) marak diberitakan. Kasus-kasus itu dapat diamati dari kasus berskala kecil hingga kasus yang berskala besar seperti tindak kriminal yang melanggar hukum. Narkoba, miras, kebut-kebutan di jalan raya, merupakan beberapa contoh tindakan pelanggaran hukum yang sering dilakoni generasi muda.

Agar kasus-kasus yang melibatkan pemuda tidak semakin marak, gagasan-gagasan dalam suatu karya layak untuk dimaknai. Tentu maksudnya gagasan yang membangun. Membangun semangat persatuan dan cinta tanah air. Bila sebagian masyarakat cenderung menyukai gagasan-gagasan untuk kepentingannya sendiri, maka sekarang kebiasaan seperti itu harus dikurangi, terlebih bagi para pemuda. Belakangan ini sejumlah pemuda terlihat betah dengan gagasan-gagasan yang menjurus pada kesenangan dan kepentingan sesaat, seperti masalah cinta. Ini terbukti dari pengamatan penulis di sekolah, para siswa justru lebih senang dengan bacaan yang sifatnya mengupas masalah dunia remaja. Kebiasaan membaca seperti itu dilakukan melalui majalah-majalah remaja, tabloid, hingga novel-novel berbau rutinitas kaum remaja. Sehingga tidak dipungkiri bila banyak remaja yang menjadi korban majalah. Apa-apa majalah. Penampilan harus sama seperti artis di majalah.

Bukan bermaksud menggeneralisasi apalagi melecehkan majalah remaja, namun tema yang diangkat dalam majalah remaja tentang cinta atau fashion show tidak mesti ditelan mentah-mentah. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, gagasan-gagasan pemuda yang sifatnya membangun sudah sepantasnya untuk diamati dan dijadikan bahan perbincangan baru. Bagaimana memaknai gagasan-gagasan pemuda yang membangun untuk sebuah persatuan itu?
Pemikiran pemuda yang menyerukan semangat persatuan dan cinta tanah air itu dapat disimak misalnya melalui puisi-puisi karya pujangga Muhammad Yamin. Muhammad Yamin yang lahir di Sawahlunto, Sumatra Barat pada 23 Agustus 1903 ini banyak menulis puisi, sekitar tahun 1920 hingga 1928. Oleh beberapa pengamat sastra, Muhammad Yamin dikatakan aktif memproduksi sajak-sajak hanya pada saat masih remaja, namun saat matang dewasa, ia terjun ke dunia politik tanah air dan berhenti menghasilkan karya-karya sastra (Linus Suryadi, 1987 : 23). Meski demikian, karya-karyanya tetap menjadi inspirasi terhadap tercetusnya Sumpah Pemuda.

Paling tidak, ada tiga buah puisi karyanya yang tak gentar menyerukan semangat persatuan itu. Seruan persatuan yang disampaikan melalui sastra (puisi) oleh Muhammad Yamin disampaikan dengan tiga aspek persatuan, yaitu bangsa, tanah air, dan bahasa. Ketiga aspek persatuan itu setara dengan isi Sumpah Pemuda yang diikrarkan 28 Oktober 1928 silam. Menariknya, puisi-puisi yang membangkitkan semangat persatuan karya Muhammad Yamin digubah jauh sebelum diikrarkannya sumpah sakral itu. Hal ini sekaligus menunjukkan keinginan seorang pemuda untuk sebuah persatuan telah ada jauh-jauh hari sebelum ikrar Sumpah Pemuda itu didengungkan.

Ketiga puisi Muhammad Yamin itu adalah “Bahasa, Bangsa”, “Tanah Air”, dan “Indonesia, Tumpah Darahku”. Dalam puisi “Bahasa, Bangsa” misalnya, Muhammad Yamin menyampaikan pesan-pesan persatuan melalui relasi antara bahasa dan bangsa. Muhammad Yamin menjelaskan dalam puisinya itu bahwa sebuah persatuan sangat erat kaitannya dengan bangsa dan bahasa. Jika kita mengenal ungkapan, bahasa menunjukkan bangsa, boleh jadi terinspirasi dari puisi Muhamad Yamini ini. Selain itu, dalam puisi ini Muhammad Yamin lebih menonjolkan kecintaanya terhadap tanah kelahirannya, Sumatra. “… Ingat pemuda, Sumatra malang / Tiada bahasa, bangsa pun hilang”. Kutipan tersebut merupakan baris penutup puisi “Bahasa, Bangsa” yang seakan-akan mengingatkan para pembaca betapa pentingnya komunikasi (bahasa) antarsesama. Tanpa komunikasi yang baik, suatu bangsa akan mengalami perpecahan. Perpecahan bangsa bukanlah cerminan tanah air yang baik.

Dua tahun setelah lahirnya puisi “Bahasa, Bangsa” tampaknya Muhammad Yamin masih merasa belum puas karena cita-citanya untuk sebuah persatuan Indonesia masih belum bisa ia wujudkan. Sehingga pada tahun 1922 Muhammad Yamin kembali menulis puisi yang masih menyerukan semangat persatuan. “Tanah Air” judulnya, terdiri dari dari 30 bait, dan tiap baitnya terdiri atas 9 baris (Linus Suryadi, 1987 : 25). Dalam puisinya ini kalimat-kalimat Muhammad Yamin nyaris menyerempet isi Sumpah Pemuda. Meski demikian, bunyi Sumpah Pemuda belum berhasil dikumandangkan pada saat itu. Perhatikan kutipan berikut “…O, tanah, wahai pulauku / Tempat bahasa mengikat bangsa…”. Bila ditelaah, kalimat itu merujuk pada tiga aspek persatuan seperti dalam bunyi Sumpah Pemuda.

Puisi “Tanah Air” tampaknya juga belum mampu mewujudkan angan-angan Muhammad Yamin menjadi sebuah kenyataan. Hingga menginjak tahun 1928 tepatnya pada 26 Oktober, ia kembali menuangkan cita-citanya itu dalam sebuah puisi super panjang berjumlah 88 bait. Judulnya “Indonesia, Tumpah Darahku”. Semngat persatuannya itu ia ungkapkan pada awal bait pertama. “…Bersatu kita teguh/ bercerai kita jatuh…”. Kata-kata seperti itu tentu tak asing lagi di telinga kita, karena kita juga mengenal ungkapan bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Puisi ini bila diamati dapat kita simpulkan berhasil menyerukan semangat persatuan itu. Pasalnya, ikrar Sumpah Pemuda terjadi dua hari setelah terciptanya puisi ini.

Sebagai seorang pujangga di saat remaja yang beralih ke gelanggang politik tanah air di saat dewasa tampaknya membuat seorang Muhammad Yamin menjadi mudah menjalani profesi barunya tersebut. Terlebih setelah menjabat sebagai sekretaris Kongres Pemuda II yang melahirkan ikrar yang terkenal dengan Sumpah Pemuda itu. Tentu kebiasaan-kebiasaan dalam melahirkan karya sastra (puisi) membuatnya semakin matang sebagai seorang sekretaris. Dengan kalimat lain, kepekaan seorang Muhammad Yamin sebagai sastrawan memperlancar tugas-tugasnya setelah berkecimpung dalam dunia politik dan saat menjabat sebagai sekretaris Kongres Pemuda II. Itu berarti, jejak Muhammad Yamin dalam sajak-sajaknya telah menjadi inspirasi perjuangan pemuda dalam merebut kemerdekaan.

Oleh karena itu, generasi muda saat ini perlu menghargai jejak-jejak perjuangan pahlawan Muhammad Yamin dengan mengapresiasi sajak-sajaknya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Muhammad Yamin sebagai seorang pahlawan telah melahirkan karya besar yang pantas diteladani demi persatuan dan kesatuan Indonesia sesuai dengan semangat Sumpah Pemuda yang kini telah memasuki tahun ke-81.

Nah, begitulah Muhammad Yamin dibalik cita-citanya untuk sebuah persatuan. Kini, sebagai kaum muda yang hidup di zaman merdeka ini perlu melakukan banyak hal. Bukan sekadar menghargai pemikiran-pemikiran para tokoh terdahulu dalam konteks teori saja. Tindak nyata di lapangan sudah harus mengarah pada usaha mempertahankan persatuan dan kesatuan yang telah diraih itu. Untuk itu, perlu adanya sebuah kemandirian dalam rangka Indonesia yang lebih maju yang tentunya tak lepas dari tema Sumpah Pemuda ke-81, “pemuda mandiri, Indonesia maju dan bersatu”.
(juara II Lomba Menulis Essai Kab. Badung 2009)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar